Skip to content

Tribunmedia.com

Seputar Informasi Terkini Dan Terpercaya

Menu
  • About Us
  • Contact Us
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Menu

Satelit Starlink Membuat Astronom Sulit Melihat Luar Angkasa

Posted on September 23, 2024

Upaya untuk mempelajari alam semesta terganggu oleh gelombang radio yang dipancarkan dari jaringan satelit Starlink, menurut sebuah studi baru. Jaringan satelit Starlink terdiri dari lebih dari 6.300 satelit yang berfungsi dan mengorbit Bumi pada ketinggian 550 km. Jumlah ini sudah lebih dari setengah dari semua satelit yang mengelilingi planet Bumi. Semua satelit tersebut menghasilkan "kebisingan" radio, yang dikenal sebagai radiasi elektromagnetik tak sengaja atau UEMR.

Meski jaringan Starlink memungkinkan penyediaan layanan internet cepat di seluruh dunia, yang sangat membantu komunitas tanpa infrastruktur internet yang baik, kebisingan dari satelit ini bisa merusak pekerjaan para astronom. Sebuah studi yang dipimpin oleh Netherlands Institute for Radio Astronomy (ASTRON) menemukan bahwa satelit generasi kedua Starlink, yang disebut "V2", memancarkan UEMR 32 kali lebih terang dibandingkan satelit generasi pertama mereka, V1. Satelit Starlink generasi pertama, yang saat ini mayoritas dari jaringan tersebut, sudah menjadi perhatian komunitas astronomi ketika kebocoran UEMR pertama kali terdeteksi mengganggu penelitian pada 2022.

Benjamin Winkel, ilmuwan dari Max Planck Institute for Radio Astronomy yang turut menganalisis masalah ini, mengatakan bahwa gangguan tersebut "membutakan” pekerjaan para peneliti. "Meski satelit generasi 1 memang menjadi lebih redup dalam setahun terakhir, jadi Starlink sebenarnya sudah melakukan sesuatu untuk mengurangi kebocoran radio, tetapi sayangnya satelit generasi baru justru lebih terang lagi," kata Winkel. Ledakan Keras di Pusat Tel Aviv, Belasan Tentara Israel Roboh Dalam Sehari di Front Gaza Lebanon Halaman 4

"Saat kami mengatakan ‘buta', artinya mata kita mengumpulkan terlalu banyak cahaya sehingga tidak bisa melihat apapun. Inilah yang terjadi pada teleskop radio kami," tambahnya. Jumlah satelit yang mengorbit dari berbagai operator bisa meningkat hingga 100.000 pada 2030. Dengan satelit yang bisa dilihat dengan mata telanjang di langit malam, peningkatan besar ini bisa semakin menyulitkan astronom yang menggunakan teleskop optik dan radio.

"Rekan rekan saya benar benar khawatir dengan masa depan," kata Winkel. "Ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan jika mereka ingin melakukan pengamatan dengan baik." Penemuan terbaru ini berdampak buruk bagi pengamatan teleskop radio. Akibatnya bisa berupa munculnya "noda" cahaya di gambar yang diambil oleh alat alat canggih ini. Kebocoran cahaya ini tidak selalu bisa dihilangkan, sehingga merusak data observasi yang berharga.

Jaringan seluler dan polusi radio dari perangkat elektronik di darat juga bisa mengganggu pengamatan luar angkasa, tetapi emisi ini diatur dengan ketat oleh lembaga seperti International Telecommunications Union. Namun, di luar angkasa, aturannya berbeda. Dengan sedikit regulasi untuk operator satelit, komunitas peneliti bergantung pada kerja sama baik dengan perusahaan yang meluncurkan teknologi ke luar angkasa. Sebagian besar, kerja sama ini berjalan baik, seperti saat Starlink membuat modifikasi yang diterima pada satelit V1 untuk mengurangi kebisingan radio.

Pada Agustus, SpaceX (perusahaan pemilik Starlink) menjelaskan upaya mereka untuk mengarahkan emisi radio agar tidak mengenai teleskop, sebuah teknik yang dikenal sebagai metode penghindaran garis pandang teleskop. Dalam pernyataan tersebut, SpaceX mengatakan, "SpaceX selalu membuka diri untuk bekerja sama dengan organisasi astronomi radio di seluruh dunia guna melindungi penelitian ilmiah penting mereka." Namun, Starlink bukan satu satunya pelaku gangguan astronomi di masa depan.

Satu pesaing baru di dunia internet satelit adalah OneWeb, yang memiliki sekitar 630 satelit di orbit. Proyek Kuiper milik Amazon baru memiliki dua satelit, tetapi jumlah ini diprediksi akan bertambah seiring upaya mereka menguasai pasar internet konsumen. Ini adalah bisnis besar, tetapi perusahaan perusahaan ini mengambil ruang yang sangat dibutuhkan oleh para peneliti luar angkasa. Regulasi sangat penting, tetapi membutuhkan waktu, sehingga solusi jangka pendek terbaik adalah jika operator satelit mau terus memperbaiki kebocoran radio mereka. "Tidak mungkin membuat perangkat elektronik tanpa kebocoran seperti ini," kata Winkel. "Pertanyaannya selalu: seberapa banyak yang bocor?"

"Perangkat konsumen… tunduk pada regulasi tertentu untuk kebocoran ini, baik untuk masalah kesehatan maupun keamanan, agar tidak mengganggu perangkat lain. Tapi untuk satelit, itu belum diatur, jadi ini adalah area abu abu," tambahnya. Diadaptasi dari artikel DW Inggris Bright unintended electromagnetic radiation from second generation Starlink satellites. Published by C. G. Bassa, F. Di Vruno, B. Winkel, G. I. G. Józsa, M. A. Brentjens and X. Zhang in Astronomy & Astrophysics (2024)

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Teka-Teki Lucu yang Masih Digemari di Era Digital
  • Rekomendasi Regulator Gas Terbaik Quantum yang Aman dan Anti Bocor
  • Ternyata Ini Penyebabnya! Mengapa Sering Pusing Setelah Bangun Tidur dan Cara Mengatasinya – BCA Life
  • Syarat dan Keuntungan Menjadi Nasabah Prioritas Bank Sinarmas
  • Jangan Tunggu Sakit! Ini Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • July 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024

Categories

  • Adv
  • Bisnis
  • E-sport
  • Haji
  • Informasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Konstruksi & Bangunan
  • Lifestyle
  • Metropolitan
  • Nasional
  • Otomotif
  • Regional
  • Seleb
  • Sport
  • Travel
©2026 Tribunmedia.com | Design: Newspaperly WordPress Theme